0

Merevolusi Karakter Melalui Pendidikan dan Kebudayaan

Alvonsus Glori A, S.Pd

Pendidikan adalah bagian dari proses  kebudayaan, sistem nilai yang dihayati dan dikembangkan dalam dialog kebudayaan itu sendiri. Pendidikan tanpa kebudayaan akan jatuh dan akan menghancurkan manusia itu sendiri. Maka pendidikan bertanggungjawab atas perkembangan keseluruhan pribadi anak (development of the whole child), moralitas anak yang merupakan bagian dari budaya. Dari sinilah bahwa pendidikan dan kebudayaan tidak dapat dilepaskan. Maka menjadi keharusan bahwa dalam membangun sebuah peradaban bangsa yang maju setiap penyelenggara pendidikan baik itu sekolah-sekolah formal ataupun non formal harus mengaitkan budaya sebagai satu kekayaan bangsa dalam prosesnya.

Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building) karena character building inilah yang akan membuat Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, dan jaya serta bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan, maka Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli (Bung Karno)

Pendidikan memiliki fungsi dan peran ganda; pertama, untuk membina kemanusiaan (human being) dimana pendidikan bertujuan untuk mengembangkan seluruh pribadi manusia, termasuk mempersiapkan manusia sebagai warga Negara Indonesia yang baik, dan rasa persatuan (cohesivness). Yang kedua adalah, pendidikan berfungsi sebagai pengembangan sumber daya manusia (human resources), yaitu mengembangkan kemampuan dan kecakapannya memasuki era kehidupan baru.

Sistem pendidikan guna merevolusi karakter bangsa terpusat pada strategi pendidikan (kewargaan): bagaimana menerapkan Pancasila menjadi cermin kehidupan bangsa sehari-hari. Pancasila sebagai dasar Negara, cara berpikir dan sudut pandang bangsa dalam beraktifitas dan berkehidupan. Apakah nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dapat tercermin dalam kehidupan kita di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat? Kemudian ditambah lagi kondisi kesejahteraan masyarakat yang belum sejahtera merata, korupsi yang seakan membudaya dengan masih banyaknya berita OTT oleh KPK melalui media cetak dan elektronik, menipisnya rasa toleransi antar umat beragama hingga menciptakan gesekan dan perselisihan yang berujung pada penghinaan, pengingkaran terhadap perbedaan, keanekaragaman, dan rasa keadilan sosial yang belum terwujud, belum menunjukkan karakter bangsa berlandaskan Pancasila. Pada titik inilah revolusi karakter bangsa harus dilakukan melalui pendidikan kebangsaan sebagai bagian dari kebudayaan dengan merevitalisasi system pendidikan (kurikulum) untuk mengintegrasikan nilai –nilai Pancasila dalam kegiatan pembelajaran dan pembiasaan terutama dimulai dari pendidikan dasar guna mewujudkan nawa cita Bangsa Indonesia terutama dalam penguatan pendidikan karakter (PPK) dan literasi.

Toleransi bukan cara berpikir saja, melainkan pengakuan terhadap keragaman dan kebinekaan. Kebinekaan akan bisa dihargai jika sejak kecil kita belajar untuk menyadari dan hidup berdasarkan keperbedaan, keunikan, dan kebinekaan. Kegiatan pembelajaran  harus memperteguh kebinekaan, dan memperkuat restorasi sosial Indonesia, menciptakan ruang-ruang dialog antar warga, meningkatkan proses pertukaran budaya untuk membangun kebinekaan sebagai kekuatan budaya bangsa dalam satu wadah yaitu pendidikan kebangsaan..

Kewajiban moral kita sebagai warga Negara Indonesia  adalah menerapkan nilai “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, memberi landasan pemikiran, teladan sikap dan perilaku untuk saling mencintai sesama manusia, mengembangkan sikap tenggang rasa, menghargai kebinekaan sebagai suatu kekayaan.

***

Penulis,
Alvonsus Glori A, S.Pd
Guru SDK Sang Timur Pasuruan

Filed in: 5. Refleksi & Artikel Tags: ,

Share This Post

Recent Posts

Leave a Reply

Submit Comment

© 2017 Yayasan Karya Sang Timur. All rights reserved.
Yayasan Karya Sang Timur